Harga HP Xiaomi diperkirakan bakal naik tajam mulai kuartal kedua (Q2) 2025 seiring memburuknya krisis biaya komponen memori global. Bocoran dari leaker rantai pasok Digital Chat Station (DCS) menyebut cadangan memori murah Xiaomi yang sempat menjaga harga tetap stabil pada Q1 akan habis, sehingga biaya produksi ponsel baru berpotensi ikut terdorong naik.
Fenomena “Gold Memory” tekan biaya produksi
Lonjakan harga ini berkaitan dengan fenomena yang disebut “Gold Memory”, istilah yang merujuk pada mahalnya RAM dan penyimpanan internal di pasar global. Menurut informasi yang beredar, harga komponen memori hulu telah mencapai level yang dianggap tidak wajar, bahkan diperlakukan seperti komoditas premium.
Dalam kondisi normal, produsen ponsel bisa menyerap sebagian kenaikan biaya agar harga jual tetap kompetitif. Namun kali ini, tekanan biaya disebut terlalu besar untuk ditahan sepenuhnya. Akibatnya, produsen seperti Xiaomi diperkirakan akan menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual atau memangkas margin keuntungan.
Q1 2025 masih aman, Q2 mulai kena imbas
Xiaomi disebut masih mampu menjaga harga produknya tetap stabil sepanjang Q1 2025 berkat pembelian memori dalam jumlah besar di awal tahun. Strategi itu memberi ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan banderol produk tanpa perubahan signifikan.
Masalahnya, stok cadangan tersebut diprediksi habis pada akhir Maret 2025. Setelah itu, perangkat yang dirilis pada Q2 dan seterusnya akan memakai komponen dengan harga pasar terbaru yang jauh lebih tinggi. DCS bahkan memperkirakan kenaikan bisa mencapai USD 100 atau sekitar Rp1,5 juta untuk model tertentu di kelas atas.
Model yang masih aman dan yang berpotensi naik
Berdasarkan bocoran yang beredar, ada perbedaan nasib antara perangkat rilisan Q1 dan produk yang meluncur setelahnya. Model yang masuk Q1 masih diperkirakan relatif aman dari lonjakan harga, sedangkan lini baru berisiko ikut terdampak.
Daftar perangkat yang disebut masih aman:
- Seri Xiaomi 17T untuk pasar global
- Redmi K90 Ultra yang dipasarkan global sebagai Xiaomi 17T Pro
- Xiaomi CIVI 6
Daftar perangkat yang berpotensi naik harga:
- Seri Xiaomi 18
- Xiaomi 17 Fold dan Xiaomi 17 Flip
- Seri REDMI K100 yang untuk pasar global diperkirakan hadir sebagai POCO F9
- Seri Redmi Note 17
HyperOS ikut memengaruhi kebutuhan memori
Xiaomi juga disebut sulit menghemat biaya dengan menurunkan spesifikasi memori, karena sistem operasi HyperOS membutuhkan kapasitas RAM besar untuk menjalankan proses latar belakang dan animasi dengan lancar. Ini membuat pabrikan semakin tertekan untuk mempertahankan konfigurasi tinggi meski biaya komponen naik.
Di sisi lain, pasar smartphone global memang sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari naiknya harga bahan baku hingga persaingan spesifikasi yang makin ketat. Kondisi ini membuat kenaikan harga bukan hanya masalah Xiaomi, tetapi juga potensi tren yang bisa dirasakan di banyak merek lain jika biaya memori terus bertahan di level tinggi.
Konsumen disarankan lebih cermat memilih waktu beli
Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan upgrade ponsel, periode sebelum Q2 2025 dinilai menjadi momen yang lebih aman untuk membeli perangkat Xiaomi. Pembelian di fase ini berpeluang memberi harga yang lebih bersahabat sebelum dampak kenaikan komponen mulai masuk ke produk baru.
Namun, pembeli tetap disarankan mencermati spesifikasi tiap model karena kenaikan harga tidak selalu terjadi secara seragam. Beberapa perangkat mungkin hanya naik tipis, sementara model flagship dan foldable berpeluang mengalami penyesuaian yang lebih terasa. Dalam situasi seperti ini, keputusan pembelian akan sangat bergantung pada kebutuhan, waktu peluncuran, dan perbandingan harga di setiap lini produk.





