Samsung Electronics membukukan pendapatan kuartal keempat yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Lonjakan permintaan dan kenaikan harga DRAM menjadi faktor utama yang mengangkat kinerja bisnis, terutama di divisi perangkat memori.
Perusahaan melaporkan pendapatan sebesar 93,8 triliun won atau setara sekitar Rp 598 triliun. Laba bersih yang diraih pun mencapai angka rekor, yakni 20,1 triliun won (sekitar Rp 128 triliun), berkat kontribusi signifikan dari Divisi Memori dan Divisi Mobile.
Kinerja Gemilang Divisi Memori
Divisi Device Solutions (DS), yang mengurusi produk memori seperti DRAM dan NAND, mencatat penjualan meningkat hingga 33% dibanding kuartal sebelumnya. Kenaikan besar ini didorong oleh harga modul memori DDR5 yang melonjak hingga 80% pada November lalu. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas permintaan yang meningkat tajam dari pusat data untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) global.
Sebagai contoh, harga modul server DDR5 berkapasitas 32 GB naik dari US$149 menjadi US$239. Modul berkapasitas lain, seperti 16 GB dan 128 GB, juga mencatat kenaikan harga sekitar 50%. Sedangkan modul 64 GB dan 96 GB meningkat lebih dari 30%. Lonjakan harga tersebut berhasil mendorong pendapatan divisi memori hingga 44 triliun won (sekitar Rp 290 triliun) dan laba operasinya mencapai 16,4 triliun won (sekitar Rp 104 triliun).
Samsung tercatat sebagai salah satu pemain utama dunia dalam pasar komponen memori DDR5, SOCAMM2, dan GDDR7. Permintaan yang terus meningkat dari industri AI menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis divisi ini.
Performa Divisi Mobile yang Menjanjikan
Di sisi lain, Divisi Mobile Experience (MX) Samsung memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan pada kuartal ini. Meskipun penjualan seri Galaxy S26 kurang memenuhi ekspektasi, perangkat lipat Galaxy Z Fold 7 justru mengalami permintaan yang melebihi pasokan.
Pada periode pre-order, model Galaxy Z Fold 7 menyumbang 60% dari total nilai pesanan. Pengiriman unitnya juga mencapai lebih dari 2,4 juta, menandakan keberhasilan besar. Selain itu, peluncuran Galaxy Z TriFold mendapat sambutan sangat bagus, khususnya di Korea Selatan.
Meski harga resmi Galaxy Z TriFold mencapai US$2.899 (sekitar Rp 26,5 juta) di Amerika Serikat, produk tersebut langsung habis terjual dalam hitungan menit. Keberhasilan perangkat lipat ini menegaskan posisi Samsung sebagai pelopor inovasi di pasar smartphone premium.
Kontribusi Divisi Lain dan Gambaran Masa Depan
Selain memori dan ponsel, divisi Visual Display (VD) dan Digital Appliances (DA) turut berkontribusi pada profit perusahaan. Namun, gabungan pendapatan kedua divisi tersebut hanya menyumbang sekitar 16% dari total laba bersih kuartal keempat.
Ke depannya, peluncuran seri Galaxy S26 yang dijadwalkan pada Februari menjadi fokus pasar dan investor. Kesanggupan Samsung dalam menghadapi lonjakan permintaan AI serta mengatasi krisis pasokan diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan.
Ringkasan Data Penting Samsung Kuartal Keempat
- Pendapatan kuartal: 93,8 triliun won (~Rp 598 triliun).
- Laba bersih kuartal: 20,1 triliun won (~Rp 128 triliun).
- Penjualan divisi memori naik 33% QoQ, dengan harga DDR5 meningkat hingga 80%.
- Pendapatan Divisi Memori: 44 triliun won (~Rp 290 triliun); laba operasi: 16,4 triliun won (~Rp 104 triliun).
- Seri Galaxy Z Fold 7 dan Galaxy Z TriFold mendapat permintaan sangat tinggi.
- Divisi display dan peralatan digital berkontribusi 16% terhadap total laba kuartal.
Permintaan yang cepat dan besar terhadap produk memori kelas atas, terutama di sektor kecerdasan buatan, menunjukkan tren kuat yang dimanfaatkan Samsung secara efektif. Kesuksesan tersebut memperkuat posisinya sebagai raksasa teknologi yang tangguh dan responsif terhadap dinamika pasar global.
Dengan strategi harga yang agresif dan inovasi produk yang berkelanjutan, Samsung diperkirakan akan terus menjadi pemain dominan di industri semikonduktor dan smartphone kelas premium. Lonjakan permintaan DRAM dan produk AI menjadi pendorong utama kinerja perusahaan menuju kuartal mendatang.





