Hyundai Ioniq 5 mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Produksi mobil listrik ini pada 2025 tercatat hanya 209 unit, yang terdiri dari 167 unit varian Signature dan 42 unit varian N. Kondisi ini membuat posisi Ioniq 5 semakin menantang di pasar otomotif Indonesia yang kini dipenuhi oleh produk kendaraan listrik dari berbagai produsen, termasuk merek-merek asal Tiongkok.
Pada dua bulan pertama 2026, produksi Hyundai Ioniq 5 hanya mencatat 13 unit, menandakan penurunan yang cukup drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini diduga kuat karena menurunnya permintaan konsumen dan adanya perubahan strategi produksi dari PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) yang mulai berbagi fasilitas dengan merek Kia. Hal tersebut berimbas pada berkurangnya kapasitas produksi Ioniq 5.
Produksi Lokal dan Perjalanan Hyundai Ioniq 5
Hyundai Ioniq 5 pertama kali dirilis dan dirakit secara lokal di Indonesia melalui fasilitas di Cikarang, Jawa Barat. Debutnya dilakukan pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) dan langsung mendapatkan insentif pemerintah sebagai kendaraan listrik. Status Completely Knocked Down (CKD) membuat harga Ioniq 5 saat peluncuran menjadi relatif kompetitif dibandingkan kendaraan listrik impor sepenuhnya.
Namun, persaingan pasar yang semakin ketat dengan kehadiran banyak merek mobil listrik dari Tiongkok menurunkan ekspektasi pasar terhadap Ioniq 5. Harga yang ditawarkan pun cukup tinggi, dengan varian terendah dibanderol mulai Rp 809 jutaan dan varian tertinggi mencapai Rp 925,6 juta on the road Jakarta. Bandingkan dengan rival-rival yang menawarkan harga lebih terjangkau dan spesifikasi yang cukup menarik bagi konsumen Indonesia.
Penurunan Penjualan dan Promo Diskon Besar
Chief Aftersales Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Nina Violenty, mengonfirmasi bahwa semua unit Ioniq 5 produksi 2024 dan 2025 sudah habis terjual dan tidak tersedia lagi di dealer resmi. Meski stok baru terbatas, Hyundai tetap melakukan penjualan dengan program diskon besar bagi konsumen. Momen Ramadan dimanfaatkan perusahaan untuk memberikan promo harga khusus guna menarik minat beli.
Penawaran diskon yang mencapai ratusan juta rupiah ini disebarkan melalui saluran resmi Hyundai, khususnya media sosial seperti Instagram. Strategi ini dilakukan untuk membantu menghabiskan stok lama sekaligus menjaga brand Hyundai tetap eksis di segmen mobil listrik. Diskon besar ini tentu jadi daya tarik tersendiri mengingat harga asli Ioniq 5 masih terbilang premium dibandingkan model pesaing.
Faktor Penyebab Penurunan Produksi Hyundai Ioniq 5
Penurunan drastis produksi Hyundai Ioniq 5 tidak terjadi tanpa alasan. Beberapa faktor yang berkontribusi sebagai berikut:
- Persaingan ketat dengan mobil listrik asal Tiongkok yang menawarkan harga jauh lebih rendah.
- Penghentian produksi secara masif sehingga stok di dealer menjadi sangat terbatas.
- Perubahan fungsi pabrik HMMI untuk juga memproduksi model lain, termasuk produk Kia.
- Perubahan preferensi konsumen yang mulai condong pada SUV dan model listrik baru dengan fitur lebih fresh.
Keterbatasan stok baru membuat penjualan di dealer turun sehingga Hyundai lebih fokus mencairkan stok yang masih tersedia melalui diskon dan promo khusus.
Strategi Hyundai Menanggapi Pasar Mobil Listrik Indonesia
Dalam menghadapi persaingan pasar kendaraan listrik yang semakin agresif, Hyundai perlu menyesuaikan strategi produk dan harga supaya bisa meningkatkan daya saing Ioniq 5 dan model lainnya. Apalagi produk dari Tiongkok terus masuk dengan harga dan fitur menarik yang membuat konsumen lokal semakin selektif.
Penurunan produksi ini menjadi sinyal bagi Hyundai untuk melakukan inovasi dan pengembangan model baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen Indonesia. Program promo harga spesial seperti diskon selama Ramadan merupakan langkah jangka pendek yang cukup efektif untuk menjaga penjualan tetap berjalan.
Ruang Peluang dan Tantangan bagi Pasar Mobil Listrik di Indonesia
Turunnya produksi Hyundai Ioniq 5 memberikan peluang bagi merek lain terutama dari Tiongkok untuk memperkuat posisi mereka di pasar lokal. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong percepatan adopsi kendaraan ramah lingkungan melalui berbagai insentif. Namun, pembeli mobil listrik saat ini tidak hanya melihat aspek ramah lingkungan, tapi juga faktor harga, desain, dan fitur modern yang bisa memenuhi gaya hidup.
Hyundai masih memiliki kesempatan untuk bangkit kembali dengan menghadirkan model baru atau memperbarui Ioniq 5 agar lebih kompetitif. Konsistensi dalam riset dan pengembangan produk lokal menjadi kunci agar mereka tetap relevan di pasar mobil listrik yang dinamis. Penurunan produksi bukan berarti kelemahan permanen, melainkan sinyal penting untuk melakukan penyesuaian strategi.
Upaya Hyundai dalam memperkuat ceruk pasar kendaraan listrik di Indonesia harus didukung oleh pendekatan yang adaptif serta inovasi baik dari sisi teknologi maupun harga. Promo diskon besar dan stok yang menipis saat ini menjadi momentum mendorong pembelian sekaligus evaluasi ulang agar ke depan dapat menciptakan produk yang lebih menarik dan sesuai target pasar domestik.





