Pemerintah Provinsi Bali berkolaborasi dengan PT PLN (Persero) untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) hingga tahun 2026. Kerja sama ini menjadi bagian dari strategi menghadirkan transportasi ramah lingkungan sekaligus mendukung kelestarian pariwisata di Pulau Dewata.
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menegaskan bahwa Bali diharapkan menjadi kawasan percontohan pengembangan ekosistem kendaraan listrik pertama di Indonesia. Fokus utama tidak hanya pada teknologi kendaraan, tetapi juga menjaga lingkungan agar pariwisata dan kualitas hidup masyarakat tetap terjaga.
Landasan Hukum Mendukung Ekosistem Kendaraan Listrik
Pemprov Bali sudah menetapkan landasan hukum melalui Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2019 yang mengatur pemakaian KBLBB secara luas. Instruksi gubernur mendorong penggunaan kendaraan listrik oleh berbagai instansi, termasuk BUMN, BUMD, dan aparatur sipil negara (ASN) di Bali. Langkah ini diharapkan memacu adopsi kendaraan listrik secara masif.
PLN bertanggung jawab dalam penyediaan dan pengoperasian infrastruktur penting. Pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), pengembangan sistem battery swap, hingga pengelolaan kawasan pendukung menjadi prioritas utama. Infrastruktur kelistrikan juga diperkuat agar pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil dapat diterapkan secara bertahap, terutama di area wisata.
Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Bali
Menurut Kepala Dinas Perhubungan Bali, I Kadek Mudarta, terdapat dua pilar kebijakan utama. Pertama, mewujudkan Bali mandiri energi berbasis energi bersih. Kedua, mempercepat penggunaan kendaraan listrik yang sudah berjalan sejak 2019. Proyeksi menunjukkan pada 2025 jumlah kendaraan listrik di Bali akan mencapai sekitar 12.800 unit.
Adopsi kendaraan listrik roda dua melambat sejak insentif pembelian dihentikan. Namun, kendaraan listrik roda empat justru menunjukkan peningkatan tajam. Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan kendaraan roda empat listrik melonjak lebih dari 100 persen. Diperkirakan pada 2025 pertumbuhan tersebut mencapai 130 persen.
Pemprov Bali juga menginstruksikan penggunaan kendaraan listrik dalam mobilisasi dinas pemerintahan. Selain itu, transportasi umum menjadi fokus penting. Target armada taksi sebanyak 500 unit yang menggunakan kendaraan listrik pada 2026 telah diarahkan untuk mendukung konsep transportasi bersih di Bali.
Ketersediaan Infrastruktur sebagai Kunci
Keberhasilan program kendaraan listrik sangat tergantung pada ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang luas dan merata. PLN menargetkan pembangunan SPKLU yang cukup agar distribusi pengisian daya kendaraan listrik berjalan lancar dan efisien di seluruh Bali. Hal ini sangat penting untuk memberikan kenyamanan pengguna kendaraan listrik dan meminimalisir hambatan teknis.
Selain SPKLU, pengembangan sistem battery swap atau tukar baterai juga menjadi bagian dari solusi infrastruktur untuk kendaraan listrik di Bali. Sistem ini bertujuan memudahkan pengisian daya kendaraan listrik sehingga tidak memerlukan waktu lama. Dengan infrastruktur ini, pengguna kendaraan dapat lebih leluasa beraktivitas tanpa khawatir stok daya habis.
Rencana Aksi dan Sinergi Antarlembaga
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menyatakan pemerintah daerah bersama PLN telah menyusun rencana aksi terstruktur untuk pembangunan infrastruktur KBLBB pada periode 2024 hingga 2029. Rencana ini sudah dilaporkan langsung kepada Gubernur Bali guna mendapatkan dukungan penuh pelaksanaan.
Selain itu, Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Bali juga direvisi menyesuaikan kebijakan pengembangan kendaraan listrik. Penyesuaian tersebut termasuk penetapan target penggunaan 100 persen kendaraan listrik di kawasan Nusa Penida pada 2030. Hal ini menunjukkan komitmen Bali untuk menjadi pionir mobilitas energi bersih berbasis kendaraan listrik di tingkat regional.
Sinergi antara Pemprov Bali dan PLN dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik menunjukkan langkah strategis yang terintegrasi. Kolaborasi ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan infrastruktur fisik, tetapi juga pada pengembangan ekosistem pendukung, kebijakan, dan budaya penggunaan transportasi berkelanjutan.
Menuju Pariwisata Hijau dan Transportasi Berkelanjutan
Dengan pembangunan infrastruktur yang terus berlangsung dan kebijakan yang konsisten, Bali semakin dekat ke era mobilitas berbasis energi bersih. Ini mendukung visi pariwisata hijau yang berkualitas dan ramah lingkungan. Di sisi lain, inovasi transportasi berbasis kendaraan listrik akan meningkatkan kualitas udara, mengurangi polusi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Fase percepatan pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Bali menjadi contoh penting bagi daerah lain dalam mengadopsi teknologi transportasi masa depan yang lebih ramah lingkungan. Keberhasilan inisiatif ini akan berkontribusi dalam menghadirkan Bali sebagai destinasi wisata yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Dengan komitmen dan langkah terstruktur, Provinsi Bali bersama PLN memanfaatkan momentum ini untuk mendorong transformasi energi yang lebih hijau dan transportasi efisien. Pengembangan kendaraan listrik di Bali diharapkan menjadi tonggak utama dalam mewujudkan masa depan transportasi berkelanjutan di Indonesia.





