Quraish Shihab kembali menarik perhatian publik setelah menyampaikan tausiah pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ia mengingatkan bahwa kekuasaan bukan sekadar soal jabatan, melainkan amanah yang harus dipakai untuk menegakkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan rakyat.
Pesan itu segera menjadi sorotan karena datang dari seorang ulama Al-Azhar yang dikenal memiliki otoritas keilmuan kuat dalam studi tafsir Al-Qur’an. Latar pendidikan dan perjalanan intelektual Quraish Shihab membuat nasihatnya soal pemimpin jujur terdengar bukan sebagai pidato seremonial, melainkan sebagai penegasan moral yang lahir dari panjangnya proses akademik dan pengabdian.
Nasihat untuk pemimpin di hadapan Presiden
Dalam tausiah tersebut, Quraish Shihab mengutip doa dan pesan gurunya, Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, yang pernah disampaikan kepada Presiden Mesir. Ia menegaskan bahwa kekuasaan pada dasarnya berada dalam ketentuan Tuhan, tetapi ukuran sesungguhnya ada pada cara pemimpin menggunakan kekuasaan itu.
Ia menyampaikan bahwa penguasa yang jujur maupun yang durhaka sama-sama berada dalam wilayah kehendak Tuhan. Namun, yang membedakan keduanya adalah apakah kekuasaan itu dipakai untuk kebaikan publik atau justru menyimpang dari amanah.
Pesan itu relevan dalam konteks kepemimpinan modern karena publik kini menuntut akuntabilitas yang lebih tinggi dari pemegang jabatan. Di forum kenegaraan, pernyataan seperti ini berfungsi sebagai pengingat bahwa legitimasi politik tidak boleh lepas dari pertanggungjawaban اخلاق atau moral.
Quraish Shihab juga mendoakan agar kepala negara diberi kemampuan menjalankan tugas dengan berpihak kepada rakyat. Doa itu menutup pesan utamanya dengan penekanan bahwa kepemimpinan yang baik selalu membutuhkan pertolongan Tuhan untuk menegakkan keadilan.
Jejak pendidikan yang membentuk otoritas keilmuan
Nama Quraish Shihab tak lepas dari reputasi akademiknya yang panjang. Ia dikenal sebagai ahli ilmu-ilmu Al-Qur’an, penulis produktif, dan pernah menjabat Menteri Agama pada 1998.
Perjalanannya dimulai dari pendidikan dasar di Makassar. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Pondok Pesantren Darul Hadis Al-Faqihiyah di Malang, Jawa Timur, yang memperkuat dasar keislaman dan tradisi keilmuannya.
Langkah besar berikutnya terjadi ketika Quraish Shihab berangkat ke Kairo pada 1958. Di sana, ia menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, salah satu pusat studi Islam paling bergengsi di dunia.
Berikut jejak pendidikan Quraish Shihab yang paling sering dirujuk dalam profil akademik:
- Pendidikan dasar di Makassar.
- Pendidikan pesantren di Darul Hadis Al-Faqihiyah, Malang.
- Sarjana Lc. di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadis, Universitas Al-Azhar, lulus 1967.
- Magister M.A. di universitas yang sama, selesai 1969.
- Doktor bidang Tafsir Al-Qur’an di Al-Azhar pada 1982 dengan predikat Summa Cum Laude.
Pencapaian itu membuat Quraish Shihab dikenal sebagai doktor pertama dari Indonesia dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dari Universitas Al-Azhar. Status tersebut menempatkannya dalam barisan penting cendekiawan Muslim Indonesia yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di pusat studi Islam internasional.
Mengapa Al-Azhar penting dalam perjalanan Quraish Shihab
Universitas Al-Azhar memiliki reputasi besar dalam tradisi keilmuan Islam. Lembaga ini dikenal melahirkan banyak ulama, ahli hukum Islam, dan mufasir yang berpengaruh di berbagai negara.
Bagi Quraish Shihab, Al-Azhar bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan cara pandang yang lebih luas terhadap teks keagamaan. Pendekatan itu tampak dalam karya-karyanya yang kerap menghubungkan ajaran Al-Qur’an dengan kebutuhan masyarakat modern.
Latar pendidikan ini juga menjelaskan mengapa ceramahnya sering dinilai tenang, argumentatif, dan tidak konfrontatif. Quraish Shihab cenderung menempatkan ajaran agama sebagai panduan etis yang harus hadir di ruang publik secara bijak.
Karya-karya yang memperkuat pengaruhnya
Pengaruh Quraish Shihab tidak hanya lahir dari mimbar ceramah. Ia juga membangun reputasi besar melalui karya tulis yang dibaca luas oleh kalangan akademisi, santri, hingga masyarakat umum.
Beberapa karya yang paling dikenal antara lain:
- Tafsir Al-Mishbah
- Membumikan Al-Qur’an
- Filsafat Hukum Islam
- Jilbab Pakaian Wanita Muslimah dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan Kontemporer
- Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya
Karya Tafsir Al-Mishbah menjadi salah satu yang paling populer karena ditulis dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami. Melalui buku itu, Quraish Shihab berhasil menjembatani kajian tafsir yang sering dianggap berat menjadi lebih dekat dengan pembaca Indonesia.
Kedudukan moral ulama di ruang publik
Kemunculan Quraish Shihab di Istana saat peringatan keagamaan memperlihatkan bahwa ulama masih memiliki peran penting dalam percakapan kenegaraan. Kehadiran tokoh seperti dirinya menegaskan bahwa agenda negara tidak hanya membutuhkan legitimasi politik, tetapi juga pengingat etis dari otoritas keagamaan.
Pesannya tentang pemimpin jujur selaras dengan tradisi panjang nasihat ulama kepada penguasa. Dalam tradisi Islam, jabatan publik dipahami sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan.
Di tengah sorotan terhadap pejabat dan pemimpin, ceramah seperti ini sering menjadi cermin bagi publik mengenai nilai dasar kepemimpinan. Kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap rakyat tetap menjadi ukuran yang paling sering dipakai untuk menilai kualitas seorang pemimpin.
Sebagai figur yang dikenal luas di ruang publik dan dunia akademik, Quraish Shihab terus menjadi rujukan ketika pembicaraan tentang agama, kepemimpinan, dan moralitas negara mengemuka. Riwayat pendidikannya yang kuat di Makassar, Malang, dan Al-Azhar memberi bobot pada setiap nasihat yang ia sampaikan, termasuk pesan agar kekuasaan selalu diarahkan pada keadilan dan kemaslahatan rakyat.





