Jaringan 5G Indonesia Masih Sering Loncat ke 4G, Pengguna Keluhkan Ping Tidak Stabil di 2026

Layanan jaringan 5G di Indonesia saat ini masih belum menunjukkan kestabilan optimal, di mana sinyal 5G kerap tiba-tiba beralih ke jaringan 4G yang lebih lambat. Permasalahan ini cukup mengganggu aktifitas digital pengguna, khususnya di wilayah Jabodetabek yang menjadi wilayah utama penerapan jaringan generasi kelima ini. Keluhan dari pengguna menyatakan bahwa meskipun kecepatan unduh meningkat, kestabilan koneksi, terutama ping yang rendah, masih menjadi kendala signifikan.

Masalah Stabilitas Jaringan 5G

Pengalaman pengguna memperlihatkan bahwa infrastruktur 5G masih dalam tahap perkembangan yang belum matang secara menyeluruh. Seorang pengguna asal Tangerang, Dhinkis (22), menyampaikan bahwa performa 5G secara kecepatan lebih unggul ketimbang 4G, namun perpindahan sinyal yang tidak mulus menyebabkan koneksi menjadi terputus-putus. Perpindahan jaringan secara mendadak ini seringkali terjadi saat berada di ruang terbuka, membuat banyak pengguna lebih memilih bertahan menggunakan jaringan 4G yang sudah lebih stabil dan merata.

Dampak Pada Pengalaman Gaming dan Penggunaan Lainnya

Komunitas penggemar gim daring sangat merasakan dampak dari ketidakstabilan 5G ini. Angka ping yang ideal untuk gaming kompetitif biasanya berada di bawah 50 ms, namun pemain yang mencoba jaringan 5G di Indonesia mengalami lonjakan latensi hingga 160 ms sampai 299 ms. Kondisi latensi tinggi ini jelas menghambat respons waktu dan kualitas pengalaman bermain gim secara online.

Selain dari sisi teknis, aspek biaya juga menjadi pertimbangan. Harga perangkat pendukung 5G dan harga paket data yang cenderung lebih mahal dinilai belum memberikan nilai sepadan dengan cakupan layanan yang masih terbatas. Banyak pengguna menganggap jaringan 5G saat ini lebih cocok untuk aktivitas ringan seperti streaming musik, namun belum optimal untuk penggunaan berat yang membutuhkan kestabilan tinggi.

Upaya Operator Seluler untuk Perluasan Infrastruktur

Meski keluhan masih cukup tinggi, para operator seluler seperti Indosat, Telkomsel, dan XL Axiata menunjukkan komitmen kuat dalam memperluas jaringan 5G. Indosat mencatat perkembangan signifikan dengan mengoperasikan 6.872 BTS 5G pada awal 2026, meningkat drastis dari jumlah BTS yang hanya 107 unit pada tahun 2024.

Telkomsel juga telah mengoperasikan sekitar 5.300 BTS 5G hingga akhir 2025. Sementara itu, XL Axiata merencanakan perluasan jaringan Ultra 5G+ hingga menjangkau 88 kota di Indonesia tahun ini. Perluasan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan jangkauan dan kualitas sinyal 5G agar sisi pengalaman pengguna menjadi lebih optimal.

Tantangan Pengembangan Infrastruktur dan Pemerataan Layanan

Pemerintah bersama operator perlu berfokus tidak hanya pada peningkatan jumlah BTS, melainkan juga pada kualitas sinyal yang konsisten dalam ruang terbuka maupun dalam ruangan. Hal ini penting untuk memastikan adopsi teknologi 5G yang lebih luas di masyarakat, agar pengguna bisa beralih dengan percaya diri dari teknologi 4G.

Investasi dalam pengembangan infrastruktur harus selaras dengan pengendalian harga paket data agar layanan ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Pengurangan latensi menjadi kunci menarik pengguna profesional dan komunitas gaming, yang membutuhkan koneksi cepat dan stabil tanpa gangguan perpindahan sinyal.

Upaya memperkuat sinyal 5G dan memperluas jangkauan secara merata di seluruh kota besar maupun daerah pinggiran menjadi faktor yang akan menentukan keberhasilan jaringan 5G Indonesia dalam jangka panjang. Dengan langkah tepat dalam pembangunan BTS dan peningkatan kualitas layanan, tantangan stabilitas jaringan 5G semoga bisa teratasi sehingga pengguna dapat merasakan manfaat teknologi ini secara maksimal.

Berita Terkait

Back to top button