Sejumlah engineer Indonesia dengan pengalaman di perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Qualcomm mengungkap kondisi nyata terkait pengembangan teknologi deep tech di dalam negeri. Meski gaji tinggi dan nama besar sering diasosiasikan dengan kemajuan, kenyataannya bidang deep tech masih sangat langka dan kurang mendapat perhatian serius di Tanah Air.
Menurut mantan engineer tersebut, mayoritas pekerjaan di industri teknologi Indonesia cenderung berfokus pada pengembangan fitur produk dan pemeliharaan sistem yang sudah ada. Mereka jarang diberikan kesempatan untuk mengerjakan inovasi teknologi fundamental yang menjadi inti perkembangan teknologi maju. Ini mirip dengan kondisi di India, yang menurut pengakuan engineer global, juga menghadapi tantangan serupa dalam pengembangan deep tech.
Pekerjaan di Industri Teknologi Lokal Lebih Banyak Berorientasi Implementasi
Berbeda dengan pengembangan teknologi dari nol, pekerjaan di tim engineering di Indonesia lebih banyak mengerjakan integrasi produk, pengembangan fitur tambahan, dan pemeliharaan sistem. Aktivitas ini penting untuk menjaga kelancaran layanan, namun tidak banyak membuka ruang bagi inovasi sains dan rekayasa teknologi yang mendalam.
Seorang engineer berpengalaman menyebutkan bahwa sebagian besar tugas di lapangan adalah mengadaptasi fitur yang sudah ada untuk pasar lokal, bukan menciptakan solusi baru berbasis penelitian dan pengembangan. Pola ini menyebabkan pengembangan deep tech menjadi sangat terbatas dan sangat jarang terjadi.
Proses Rekrutmen dan Budaya Kerja yang Menjadi Faktor Pembatas
Di balik fenomena ini, proses seleksi tenaga kerja di sektor teknologi juga berkontribusi terhadap pola kerja tersebut. Banyak perusahaan di Indonesia mengadopsi seleksi berbasis algoritma dan pemecahan teka-teki coding sebagai tolok ukur utama. Padahal, skill seperti ini tidak selalu mencerminkan kemampuan inovasi mendalam yang dibutuhkan dalam bidang deep tech.
Dalam konteks global, para ahli teknologi menilai bahwa gelombang kecerdasan buatan (AI) dan perkembangan teknologi terkini menuntut keahlian yang tidak hanya sekadar mahir menyelesaikan soal algoritma. Dibutuhkan pemahaman komprehensif tentang sistem, komputasi terdistribusi, hardware, serta arsitektur perangkat lunak yang kompleks. Tanpa pemahaman ini, pengembangan teknologi fundamental sulit diwujudkan.
Perbandingan dengan Kondisi India
Pengamatan engineer global yang berkarier di Microsoft dan Qualcomm menunjukkan bahwa pola serupa juga terjadi di India. Meskipun banyak perusahaan global membuka divisi engineering di sana, tim India seringkali dibebani tugas integrasi produk dan pemeliharaan saja. Bahkan di perusahaan kelas dunia, keterlibatan dalam deep tech masih sangat terbatas.
Faktor utama penyebab hal ini adalah orientasi efisiensi biaya dan strategi pengelolaan sumber daya manusia yang mengutamakan problem solving praktis ketimbang inovasi teknis. Lokalisasi sistem global yang sudah ada juga lebih dominan dibandingkan penerapan riset dan pengembangan teknologi inti di India.
Faktor Penghambat dan Peluang Perbaikan
Beberapa faktor yang memengaruhi keadaan ini dapat dirinci sebagai berikut:
- Fokus Efisiensi Biaya: Perusahaan menempatkan India dan Indonesia sebagai pusat pengembangan fitur dan integrasi, bukan inovasi utama.
- Seleksi Berbasis Algoritma: Proses rekrutmen lebih menekankan kemampuan coding algoritmis daripada kapasitas inovasi teknikal yang lebih luas.
- Adaptasi Sistem Global: Sistem yang dikembangkan di negara maju seringkali hanya diadaptasi untuk kebutuhan lokal tanpa penambahan teknologi baru.
- Sentralisasi Riset di Negara Maju: Penelitian dan pengembangan inti tetap dilakukan di kantor pusat perusahaan yang berbasis di negara maju.
Meski demikian, terdapat sinyal positif bahwa kualitas sumber daya manusia di bidang teknologi semakin membaik. Di beberapa perusahaan besar, tim engineering lokal mulai dipercaya untuk menangani proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi, seperti database terdistribusi dan sistem komputasi skala besar.
Dampak bagi Pengembangan Teknologi Lokal
Situasi ini mendorong para profesional muda di bidang teknologi untuk lebih cerdas dalam memilih jalur karier. Mereka diharapkan tidak hanya berorientasi pada gaji dan nama besar perusahaan, tapi juga berupaya mencari kesempatan mengasah kemampuan pada aspek deep tech. Ini menjadi kunci agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing di ranah teknologi global.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan inovasi berbasis sains dan rekayasa, baik pemerintah maupun sektor swasta perlu mendorong ekosistem riset yang lebih kondusif. Dukungan yang lebih besar terhadap riset teknologi dasar dan peningkatan kualitas pendidikan teknik diyakini sebagai langkah strategis menghadapi tantangan tersebut.
Peran Komunitas dan Industri dalam Membentuk Masa Depan Deep Tech
Aktivitas komunitas developer dan kalangan teknologi juga punya peran penting dalam merespons tantangan ini. Diskusi dan berbagi pengalaman di berbagai platform digital membangkitkan kesadaran terkait pentingnya memahami dan mengembangkan teknologi inti secara mendalam.
Perusahaan teknologi lokal dan multi-nasional pun didorong untuk merevisi pendekatan pengembangan sumber daya manusia. Model kerja yang memberikan ruang inovasi dan riset dapat membuka peluang bagi lahirnya produk teknologi berdaya saing tinggi dari dalam negeri.
Penekanan pada pengembangan solusi teknologi dari fondasi sains dan rekayasa bukan hanya meningkatkan posisi Indonesia di peta teknologi dunia. Ini juga dapat mengakselerasi perkembangan berbagai sektor penting lain termasuk industri manufaktur, kesehatan, dan pertanian.
Dengan demikian, tantangan langkanya pengembangan deep tech di Indonesia harus menjadi perhatian semua pihak agar ekosistem teknologi dapat tumbuh berimbang antara implementasi produk dan inovasi mendalam. Ini merupakan langkah krusial untuk mendorong kemajuan teknologi nasional secara berkelanjutan.





