Microsoft kembali disorot setelah mantan pimpinan Windows, Mikhail Parakhin, membuka kembali pembahasan soal peluang besar yang pernah terlewat. Ia menyebut Windows 11 seharusnya bisa dibuat lebih ringan, dengan target pengurangan konsumsi memori idle dan ukuran instalasi bersih di disk hingga 20 persen melalui proyek lama bernama “20/20”.
Pernyataan itu menarik perhatian karena isu performa Windows 11 memang sudah lama menjadi keluhan pengguna. Bagi banyak orang, pertanyaannya bukan lagi apakah Windows 11 punya fitur baru, melainkan seberapa efisien sistem operasi ini saat dipasang dan dijalankan di perangkat harian.
Proyek lama yang belum selesai
Parakhin menjelaskan bahwa proyek “20/20” pernah dikerjakan bersama Jeff Johnson, tetapi tidak sampai tuntas. Dalam unggahannya, ia mengatakan, “So glad Pavan is restarting this push! Back in the day Jeff Johnson and I had this 20/20 project: reducing Windows’ idle memory consumption and the fresh install size on disk by 20%.”
Ungkapan itu memperlihatkan bahwa fokus pada efisiensi bukan ide baru di internal Microsoft. Artinya, penghematan sumber daya yang kini ramai dibicarakan sebenarnya pernah masuk agenda serius, tetapi tidak selesai pada tahap implementasi penuh.
Masalah ini relevan karena banyak pengguna menilai Windows 11 terasa lebih berat dibanding kebutuhan dasar mereka. Keluhan seperti RAM cepat terpakai, proses awal yang memakan waktu, dan ruang penyimpanan yang makin sempit sering muncul, terutama pada laptop kelas entry-level.
Apa arti target 20 persen bagi pengguna
Pengurangan konsumsi memori idle sebesar 20 persen terdengar teknis, tetapi dampaknya bisa sangat terasa dalam penggunaan sehari-hari. Semakin kecil jejak sistem saat tidak ada aplikasi berat yang berjalan, semakin banyak sumber daya yang tersedia untuk tugas aktif.
Pengurangan ukuran instalasi di disk juga penting karena banyak perangkat modern masih mengandalkan SSD berkapasitas terbatas. Jika sistem operasi bisa dipangkas lebih ringkas, pengguna akan mendapat ruang yang lebih lega untuk aplikasi, pembaruan, dan file pribadi.
Dalam praktiknya, efisiensi seperti ini dapat berdampak pada beberapa hal berikut:
- Booting yang lebih cepat karena beban awal sistem lebih ringan.
- Multitasking yang lebih stabil pada perangkat dengan RAM terbatas.
- Ruang penyimpanan yang lebih longgar setelah instalasi bersih.
- Daya tahan perangkat yang lebih baik pada laptop kerja dan perangkat kelas bawah.
Bagi pengguna biasa, peningkatan semacam ini sering lebih terasa dibanding tambahan fitur visual yang tidak selalu dipakai setiap hari.
Microsoft mulai bicara soal fondasi sistem
Microsoft belakangan memang mengumumkan sejumlah pembaruan yang menempatkan performa sebagai fokus utama. Perusahaan menegaskan ada upaya untuk mengurangi penggunaan sumber daya agar lebih banyak daya tersedia bagi tugas yang sedang aktif.
Perusahaan juga menyebut akan meningkatkan efisiensi memori agar jejak dasar sistem menjadi lebih kecil. Namun, Microsoft belum membeberkan angka pasti untuk peningkatan tersebut, sehingga belum jelas apakah target 20 persen yang pernah dibahas Parakhin ikut masuk dalam rencana terbaru.
Situasi ini membuat publik menunggu apakah Microsoft benar-benar mengubah pendekatan mereka. Selama ini, perusahaan kerap menambah fitur baru, tetapi tidak semua pengguna merasakan manfaat langsung dari penambahan itu, terutama jika perangkat mereka sudah terasa pas-pasan dari sisi spesifikasi.
Mengapa momentum ini dinilai tepat
Isu efisiensi Windows 11 datang pada waktu yang cukup sensitif. Harga memori dan penyimpanan sedang naik, sehingga perangkat dengan spesifikasi terbatas makin terasa menantang untuk dipakai nyaman.
Di kondisi seperti ini, optimasi sistem dasar punya nilai yang lebih besar daripada biasanya. Penghematan RAM bisa membantu perangkat tetap responsif, sementara ukuran instalasi yang lebih kecil membuat ruang penyimpanan tidak cepat habis.
Bagi pasar laptop murah, perangkat sekolah, dan PC kerja sederhana, perubahan seperti ini bisa menjadi pembeda nyata. Windows 11 yang lebih ringan akan lebih mudah diterima karena tidak memaksa pengguna berhadapan dengan sistem operasi yang terasa boros sejak awal.
Perubahan lain yang ikut memperkuat arah baru
Selain soal performa, Microsoft juga disebut menyiapkan penyesuaian yang banyak diminta pengguna. Sejumlah perubahan ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai lebih serius merespons kritik lama terhadap Windows 11.
Berikut beberapa hal yang paling disorot:
| Perubahan | Dampak bagi pengguna |
|---|---|
| Taskbar bisa dipindah dan diubah ukuran | Memberi fleksibilitas tampilan yang lebih besar |
| Kemunculan Copilot dan pengalaman AI dikurangi | Mengurangi elemen yang tidak diinginkan sebagian pengguna |
| Pembaruan bisa ditunda tanpa batas waktu | Memberi kontrol lebih besar atas jadwal update |
| Syarat Microsoft Account saat instalasi awal tidak dipaksakan | Memudahkan proses penyiapan perangkat |
Daftar itu memperlihatkan arah kebijakan yang cukup jelas. Microsoft tampaknya mulai memberi ruang lebih besar pada preferensi pengguna, bukan hanya mendorong ekosistem dan fitur bawaan yang dianggap penting oleh perusahaan.
Kenapa kritik soal Windows 11 belum hilang
Windows 11 sejak awal sering mendapat kritik karena dianggap membawa standar yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan pengguna umum. Sebagian merasa sistem ini lebih menonjolkan estetika dan ekosistem, sementara efisiensi dasar belum mendapat perhatian yang seimbang.
Kritik seperti ini biasanya muncul pada perangkat dengan spesifikasi menengah ke bawah. Saat sistem operasi menyerap terlalu banyak RAM atau memakai ruang penyimpanan yang besar, pengalaman penggunaan langsung terasa turun, bahkan sebelum aplikasi lain dibuka.
Parakhin tampaknya ingin mengingatkan bahwa akar masalah itu sudah lama terlihat. Ia tidak hanya menyoroti proyek lama yang gagal rampung, tetapi juga menyampaikan bahwa fokus pada “fondamentals” tetap penting di tengah dorongan besar terhadap fitur baru dan kecerdasan buatan.
Tantangan Microsoft ada di eksekusi
Peluang membuat Windows 11 lebih ringan sebenarnya terbuka, tetapi tantangannya ada pada pelaksanaan. Mengurangi jejak memori dan ukuran instalasi tidak mudah jika sistem tetap harus mendukung banyak perangkat, fitur, dan lapisan kompatibilitas.
Microsoft juga perlu menjaga agar optimasi tidak mengorbankan stabilitas. Pengguna tentu akan lebih puas jika sistem terasa lebih ringan tanpa menambah masalah baru, seperti bug, kegagalan pembaruan, atau fitur inti yang melemah.
Di titik inilah publik akan menilai apakah Microsoft benar-benar serius memperbaiki fondasi Windows 11. Jika target efisiensi berhasil diwujudkan, sistem operasi ini bisa menjadi lebih ringan, lebih hemat sumber daya, dan lebih relevan bagi pengguna yang selama ini menunggu perbaikan nyata pada performa dasarnya.
