Di tengah persaingan sengit industri smartphone di Indonesia, merek itel berhasil menarik perhatian konsumen dengan menghadirkan pilihan ponsel harga terjangkau yang menawarkan fitur dasar lengkap. Meskipun baru resmi masuk pasar Indonesia pada 2020, itel langsung mengguncang segmen entry-level dengan strategi harga agresif dan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen beranggaran terbatas. Namun, siapakah sebenarnya itel dan apa yang membuatnya menonjol dalam pasar gadget Tanah Air?
Asal Usul itel dan Jejak Awal di Afrika
itel bukanlah pemain baru di industri smartphone. Merek ini merupakan bagian dari Transsion Holdings, perusahaan teknologi asal Shenzhen, Tiongkok, yang telah lama menguasai pasar Afrika dengan pangsa lebih dari 40%, melampaui Samsung dan Apple. Transsion dikenal dengan strategi yang sangat lokal dan responsif terhadap kebutuhan pengguna Afrika, seperti kamera yang dioptimalkan untuk kulit gelap, baterai tahan lama untuk kondisi listrik tidak stabil, serta harga yang sangat terjangkau.
Dengan keberhasilan tersebut, itel kemudian diperluas target pasarnya ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. itel bergabung bersama dua merek lain di bawah naungan Transsion, yaitu Infinix dan TECNO, yang saling berbagi platform perangkat keras, sistem operasi HiOS, serta rantai pasok untuk menghasilkan smartphone murah dengan volume produksi tinggi.
Strategi Patokan Harga dan Produktivitas Sederhana
Fokus utama itel adalah menjaga harga jual seminimal mungkin, sekali pun berujung pada kompromi performa. Seri smartphone itel di Indonesia rata-rata dijual mulai di bawah Rp1 juta, misalnya itel P40 yang dijual sekitar Rp900 ribu dan dilengkapi baterai besar 6.000 mAh serta layar lega 6,6 inci. Model-model lain seperti itel City 100 (Rp1,3 jutaan), P55 5G (Rp1,3 jutaan), dan flagship S25 Ultra (di bawah Rp2,3 juta) juga menawarkan kombinasi harga murah dengan spesifikasi cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti media sosial, YouTube, dan komunikasi.
Namun, di balik harga murah tersebut, itel mengandalkan chipset buatan UNISOC, bukan Snapdragon atau MediaTek yang lebih populer. Biasanya, UNISOC menawarkan biaya produksi yang rendah tapi performa dan keamanan menjadi isu. Laporan dari The Hacker News mengungkap adanya kerentanan keamanan dan kemungkinan backdoor pada beberapa versi chipset UNISOC, yang memungkinkan peretas mengakses data pribadi pengguna. Selain itu, performa chipset ini dirasa kurang memadai untuk gaming berat dan multitasking intensif, meski chipset terbaru UNISOC T8200 dan T8300 mulai memperlihatkan kemajuan.
Penamaan Produk: Strategi Meminjam Popularitas Rival
Salah satu taktik pemasaran itel yang cukup unik dan kontroversial adalah penggunaan nama produk yang mirip dengan merek premium ternama, untuk menciptakan asosiasi positif dan menanamkan kesan dekat dengan flagship terkenal. Contohnya itel S23+, S25, dan S25 Ultra yang mengingatkan pada Samsung Galaxy S23, S24, dan S25. Model P55 5G dan P65 menyerupai seri Huawei P50 dan P60, sedangkan itel A80 mengingatkan pada seri OPPO A atau Samsung Galaxy A series.
Strategi ini efektif di pasar berkembang seperti Indonesia, dimana konsumen sering kali menilai produk berdasarkan brand dan nama. Namun, itel juga berusaha membangun identitas sendiri dengan lini RS (Real Speed) dan City yang menonjolkan keunggulan fitur spesifik seperti baterai besar dan layar lebar.
Target Pasar: Konsumen Beranggaran Terbatas dan Fungsional
itel dengan cermat membidik segmen pengguna yang tidak memprioritaskan performa tinggi atau kemewahan, melainkan kebutuhan akan smartphone yang fungsional dengan harga sangat terjangkau. Target utamanya adalah pelajar, pekerja harian, pelaku UMKM, dan keluarga prasejahtera yang membutuhkan perangkat untuk komunikasi, media sosial, dan hiburan ringan.
Fitur utama yang ditawarkan itel meliputi:
- Baterai berkapasitas besar antara 5.000–6.000 mAh untuk penggunaan lama.
- Layar luas di atas 6,5 inci yang nyaman untuk menonton video.
- Dukungan jaringan 4G dan 5G.
- Dual SIM dan slot microSD guna memperluas kapasitas penyimpanan.
Masuknya itel ke Indonesia dan Kesan Konsumen
Setelah debut dengan produk Vision1 dan Vision1 Plus pada tahun 2020 yang dibanderol sekitar Rp1 juta, itel memperoleh sambutan hangat. Keberhasilannya meningkat pesat pada 2023 bersama peluncuran itel P40 yang harganya sangat kompetitif namun tetap memberikan desain modern dan fitur yang cukup memadai. Peluang ini didukung juga oleh aktivitas promosi agresif melalui platform e-commerce besar seperti Shopee dan Tokopedia.
Bagian dari Kerajaan Transsion di Pasar Smartphone Murah
Menjadi bagian dari Transsion Holdings memberi itel keuntungan besar dalam hal teknologi, distribusi, dan efisiensi produksi. Dengan fokus serupa pada keberlanjutan daya baterai dan harga terjangkau, itel meniru resep sukses yang selama ini memperkuat dominasinya di pasar Afrika agar bisa mencoba nasib di Indonesia.
Secara keseluruhan, itel adalah contoh merek smartphone yang tak ingin bersaing secara head-to-head dengan pemain besar dari sisi performa dan teknologi tinggi. Sebaliknya, itel menunjukkan bahwa masih ada pasar besar yang haus perangkat murah tapi cukup baik untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Meski harus diwaspadai soal keamanan chipset dan performa yang terbatas, itel berhasil menciptakan ceruk pasar sendiri yang unik dan memberikan opsi bagi konsumen yang mengedepankan nilai ekonomis dan fungsionalitas.
