Digital Edge Investasi Rp 72 Triliun Bangun Pusat Data 500MW di Bekasi Perkuat Layanan AI

Digital Edge resmi mengumumkan investasi senilai 4,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 72 triliun untuk membangun pusat data hyperscale terbesar di Indonesia melalui proyek CGK Campus. Lokasi pusat data ini berada di kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC), Bekasi, Jawa Barat, dengan kapasitas awal mencapai 500 megawatt (MW).

Investasi besar ini didorong oleh kebutuhan layanan cloud dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terus tumbuh drastis di Indonesia. John Freeman, CEO Digital Edge, menyatakan bahwa proyek ini menjadi tonggak strategi regional dan investasi terbesar perusahaan di wilayah Asia Pasifik. Pusat data CGK Campus diharapkan dapat mengakomodasi permintaan layanan digital yang semakin meningkat.

Kapasitas dan Potensi Ekspansi

CGK Campus dirancang memiliki kapasitas awal 500 MW dan potensi perluasan hingga mencapai 1 gigawatt (GW). Konsep hyperscale ini memungkinkan fasilitas untuk berkembang seiring dengan kebutuhan pasar digital yang dinamis. Pusat data ini akan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital global.

Pengembangan dilakukan secara bertahap dalam tiga fase, dengan gedung pertama diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026. Tahap kedua dan ketiga dijadwalkan aktif pada kuartal I dan II 2027. Pendekatan bertahap ini memberi ruang penyesuaian kapasitas sesuai kondisi pasar.

Teknologi dan Efisiensi Tinggi

CGK Campus akan menerapkan teknologi canggih dengan fokus pada efisiensi energi. Target Power Usage Effectiveness (PUE) mencapai 1,25 per tahun, nilai yang tergolong sangat efisien di kelas pusat data hyperscale. Salah satu inovasi utama adalah penggunaan direct-to-chip liquid cooling untuk menjaga performa sistem yang menangani beban kerja AI sangat berat. Teknologi tersebut juga membantu mengurangi konsumsi energi dibandingkan metode pendinginan konvensional.

Staf teknis Digital Edge menjelaskan bahwa pengadopsian teknologi ini menjadi kunci untuk memenuhi tuntutan operasi yang semakin kompleks, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Keberlanjutan dan Infrastruktur Ramah Lingkungan

Aspek keberlanjutan memperoleh perhatian serius dalam pembangunan CGK Campus. Sistem pengelolaan air daur ulang menjadi fitur utama guna meminimalkan penggunaan sumber daya air segar. Selain itu, pusat data ini mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari komitmen pengurangan jejak karbon operasional.

Stephanus Oscar, CEO Digital Edge Indonesia, menegaskan bahwa kapasitas pusat data nasional saat ini belum mencukupi untuk melayani lonjakan layanan digital. Dengan pendekatan berorientasi lingkungan ini, CGK Campus hadir sebagai solusi berkelanjutan sekaligus memperkuat infrastruktur digital nasional.

Arsitektur Carrier-Neutral dan Konektivitas Unggulan

Pusat data CGK Campus mengusung arsitektur carrier-neutral yang memungkinkan fleksibilitas jaringan untuk berbagai penyedia layanan. Konsep ini memberikan kebebasan bagi pelanggan bisnis untuk memilih penyedia jaringan yang sesuai kebutuhan tanpa terikat.

Lokasi pusat data yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari klaster pusat data utama Bekasi juga memudahkan konektivitas ke berbagai titik penting. Jarak sekitar 40 kilometer dari fasilitas EDGE1 dan EDGE2 Digital Edge memastikan latensi rendah dan stabilitas untuk operasi bisnis di kawasan Jabodetabek.

Dukungan konektivitas handal didapat dari jaringan fiber optik milik Indonet, anak perusahaan Digital Edge di Indonesia. Seluruh rute fiber optik ke GIIC dibangun sepenuhnya di bawah tanah. Pendekatan ini meningkatkan keamanan, kecepatan, dan keandalan jaringan untuk kebutuhan hyperscale dan enterprise.

CEO Indonet, Andy Rigoli, menyampaikan bahwa jaringan ini dilengkapi dengan sistem pemantauan canggih dan perangkat berstandar tinggi. Hal tersebut menjadikan CGK Campus siap menghadapi tantangan kebutuhan layanan digital yang kian kompleks.

Ringkasan Poin Utama Proyek CGK Campus

  1. Investasi mencapai Rp 72 triliun atau 4,5 miliar dolar AS.
  2. Kapasitas awal pusat data sebesar 500 MW, dengan potensi ekspansi hingga 1 GW.
  3. Target efisiensi energi dengan PUE 1,25 dan teknologi direct-to-chip liquid cooling.
  4. Implementasi sistem daur ulang air dan pemanfaatan energi terbarukan.
  5. Arsitektur carrier-neutral untuk fleksibilitas penyedia jaringan.
  6. Lokasi strategis dekat klaster pusat data Bekasi dan pusat bisnis Jakarta.
  7. Pembangunan bertahap pada kuartal IV 2026 hingga kuartal II 2027.
  8. Konektivitas unggulan menggunakan jaringan fiber optik bawah tanah Indonet.

Dengan kapasitas besar dan teknologi terkini, CGK Campus diharapkan menjadi tulang punggung penyediaan layanan cloud dan AI tingkat tinggi di Indonesia. Keberadaan pusat data ini akan mempercepat transformasi digital nasional dan mendukung pengembangan ekonomi digital Indonesia secara luas.

Keunggulan dalam efisiensi energi dan keberlanjutan juga memperkuat posisi Digital Edge sebagai pelopor infrastruktur data yang ramah lingkungan. Proyek ini menjadi contoh investasi strategis yang tidak hanya menjawab kebutuhan pasar saat ini, tetapi juga mengantisipasi permintaan digital di masa depan.

Digital Edge melalui CGK Campus siap menyediakan fondasi infrastruktur penting guna memperkuat ekosistem digital Indonesia dan Asia Pasifik. Ini sekaligus menegaskan Indonesia sebagai hub potensial untuk layanan hyperscale dan solusi kecerdasan buatan global.

Berita Terkait

Back to top button