Bukan Sekadar Bertahan: Bisnis Sosial Strategi Kedaulatan di Dunia Terpecah

Dunia kini menghadapi pergeseran yang tidak hanya politis, tetapi juga ekonomi, dengan tatanan global yang menjadi semakin terpecah dan proteksionis. Dalam situasi ini, bisnis sosial—khususnya yang dijalankan oleh koperasi dan UMKM berbasis komunitas—menjadi lebih dari sekadar bertahan; mereka merupakan strategi penting untuk menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia.

Ketegangan geopolitik seperti perang dagang AS-Tiongkok telah memicu gelombang pembatasan ekspor dan pemberlakuan tarif tinggi di berbagai negara. Hal ini berdampak signifikan bagi pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia, yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Bisnis sosial, dengan fokus pada manfaat sosial dan pemberdayaan komunitas, menjadi kunci dalam membangun ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Model bisnis ini bukan hanya menyerap lapangan kerja, tetapi juga menguatkan pasar domestik yang harus diandalkan saat pasar internasional terganggu.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, dari sekitar 65 juta UMKM di Indonesia, hanya sekitar 39,7% yang sudah terintegrasi dalam ekosistem digital. Terlebih, sektor koperasi dan bisnis sosial di bidang pertanian serta perikanan masih sangat tertinggal dalam hal digitalisasi. Keterbatasan ini menimbulkan risiko besar karena dominasi platform dan sistem asing yang membuat pelaku usaha lokal seolah menjadi tamu di negeri sendiri.

Dalam menghadapi dunia yang kini semakin tidak netral, pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan mengambil langkah strategis. Agus Sani, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, menegaskan pentingnya menjadikan bisnis sosial sebagai aktor utama ekonomi nasional. Rekomendasi utamanya meliputi pembentukan ekosistem digital koperasi yang mandiri dan aman, pemberian insentif fiskal bagi digitalisasi UMKM, serta pengembangan riset teknologi yang cocok untuk bisnis sosial desa. Selain itu, literasi digital harus menjadi program nasional agar transformasi ini merata dan inklusif.

Langkah digitalisasi ini terbukti meningkatkan omzet, efisiensi biaya, dan daya tahan usaha terhadap berbagai krisis. Ketika dunia membangun benteng ekonominya masing-masing—dari carbon border tax di Uni Eropa hingga kebijakan Buy American di AS—Indonesia tidak boleh kalah dalam turut memperkuat kedaulatan ekonomi berbasis rakyat.

Transformasi digital bisnis sosial adalah kunci masa depan Indonesia agar mampu mempertahankan kemakmuran di tengah fragmentasi dunia. Dengan mengedepankan ekonomi gotong royong yang modern dan tangguh, Indonesia dapat mengupayakan kedaulatan yang sesungguhnya, bukan hanya sekadar bertahan di tengah ketidakpastian global.

Berita Terkait

Back to top button