Pemerintah India tengah menyiapkan skema insentif baru untuk industri smartphone, dengan fokus utama pada ekspor dan penggunaan komponen lokal. Kebijakan ini dirancang untuk menggantikan program Production-Linked Incentive (PLI) yang akan berakhir, sekaligus mendorong India menjadi pusat produksi smartphone yang tak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga pasar global.
Fase sebelumnya dari program PLI berhasil meningkatkan produksi ponsel di India, sehingga sebagian besar ponsel yang beredar sudah dirakit secara lokal. Namun, pemerintah kini berambisi memperluas tujuan kebijakan dengan meningkatkan nilai tambah produk serta memperkuat posisi India dalam rantai pasok elektronik global.
Fokus Skema Subsidi Baru Pada Ekspor dan Lokalisasi
Dalam kebijakan terbaru, insentif akan diberikan berdasarkan jumlah smartphone yang diekspor dari India. Hal ini menunjukkan pergeseran strategi dari produksi untuk pasar dalam negeri menuju ekspor yang lebih masif. Selain itu, pemerintah memberi bobot lebih besar pada tingkat penggunaan komponen buatan dalam negeri.
Skema ini mendorong produsen untuk meningkatkan kandungan komponen lokal pada perangkat mereka guna memperoleh insentif lebih besar. Misalnya, penggunaan modul kamera, rakitan layar, dan subkomponen lain yang diproduksi di India akan menjadi poin krusial dalam penilaian penerima subsidi.
Berikut gambaran fokus utama dari kebijakan baru ini:
- Mendorong ekspor smartphone dari India dengan volume dan nilai tambah yang lebih tinggi.
- Meningkatkan penggunaan komponen produksi lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.
- Mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen bernilai tinggi dari negara lain.
- Menarik lebih banyak merek global untuk menjadikan India sebagai basis produksi internasional.
Manfaat Besar untuk Apple dan Samsung
Apple menjadi salah satu perusahaan yang diprediksi paling diuntungkan oleh kebijakan ini. Pasalnya, produk iPhone yang diproduksi di India sudah menyumbang porsi besar ekspor smartphone ke berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Rencana Apple untuk meningkatkan produksi iPhone di India guna memenuhi pasar ekspor semakin memperkuat posisi negara tersebut sebagai basis produksi utama.
Samsung juga memiliki peluang besar menikmati insentif ini karena fasilitas manufakturnya yang besar di India. Meski demikian, kontribusi Apple terhadap kenaikan ekspor smartphone India lebih kerap mendapat sorotan dalam laporan industri. Kedua raksasa teknologi ini berpotensi memperkuat daya saing produksi globalnya lewat skema subsidi berbasis ekspor dan komponen lokal.
Tantangan yang Masih Harus Diatasi
Meskipun produksi ponsel di India berkembang pesat, industri komponen elektronik lokal masih dalam tahap pembentukan. Banyak komponen bernilai tinggi masih bergantung pada impor dari China, Korea Selatan, dan Taiwan.
Faktor ini menjadi kendala untuk mencapai target kedalaman manufaktur dan lokalisasi yang dicanangkan. Perakitan bisa dialihkan dengan cepat, tetapi membangun ekosistem pemasok komponen memerlukan investasi besar dan transfer teknologi yang berkelanjutan. Selain itu, kepastian permintaan dalam jangka panjang menjadi faktor penting untuk menarik investasi supplier lokal.
Pemerintah juga berharap produsen lain seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi dapat lebih aktif mengekspor produk dari India. Selama ini, pabrik mereka berfokus pada pasar domestik sehingga kontribusi pada ekspor masih terbatas jika dibandingkan dengan Apple.
Dampak Skema Baru Terhadap Industri Smartphone Global
Kebijakan ini sejalan dengan strategi nasional “Make in India” yang bertujuan meningkatkan kapasitas manufaktur dalam negeri sekaligus menarik investasi global. Langkah ini bisa mempercepat diversifikasi basis produksi smartphone dunia di luar China, yang selama ini masih menjadi pusat produksi dan rantai pasok utama.
Bila kebijakan ini terealisasi, India berpotensi naik kelas dari pusat perakitan menjadi simpul utama dalam pasokan smartphone global. Apple, Samsung, dan merek lainnya akan mempertimbangkan insentif ini sebagai faktor penting dalam menentukan strategi produksi, ekspor, dan penggunaan komponen lokal ke depan.
Indonesia juga perlu mencermati langkah ini sebagai contoh pengembangan industri elektronik skala besar dengan dukungan kebijakan pemerintah yang terarah. Penguatan rantai pasok dan peningkatan lokalisasi komponen merupakan tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat daya saing produk dalam negeri di kancah global.
Dengan demikian, babak baru persaingan di industri smartphone global akan semakin menantang, di mana sentra produksi tidak hanya dipandang dari kapasitas perakitan, melainkan juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah dan integrasi rantai pasok lokal yang kuat. Subsidi ponsel baru dari India ini dapat menjadi acuan penting dalam pembentukan ekosistem manufaktur yang berkelanjutan dan kompetitif.
