Aismoli Soroti Motor Listrik Baru, Konversi Molis Prabowo Bukan Satu-Satunya Jalan

Aismoli menilai dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat konversi motor bensin menjadi motor listrik sebagai langkah yang tepat. Namun, asosiasi itu menegaskan bahwa konversi bukan satu-satunya jalan untuk mempercepat elektrifikasi roda dua di Indonesia.

Sikap tersebut menyoroti satu hal penting dalam transisi energi, yakni masyarakat perlu diberi pilihan. Sebagian pemilik motor akan lebih cocok mengonversi kendaraan lama, sementara yang lain bisa langsung membeli motor listrik baru sesuai kebutuhan harian dan kemampuan finansial.

Pilihan Elektrifikasi Tidak Bisa Diseragamkan

Sekjen Aismoli Hanggoro Ananta menyampaikan bahwa dua jalur itu memiliki tujuan yang sama, yaitu efisiensi energi dan percepatan peralihan ke transportasi bersih. Karena itu, kebijakan publik dinilai perlu membuka ruang bagi keduanya agar adopsi kendaraan listrik berjalan lebih cepat dan lebih luas.

Hanggoro menilai fokus pemerintah pada konversi massal sah-sah saja jika dijadikan strategi utama. Tetapi, pasar motor listrik baru juga terus tumbuh dan dapat menjadi penggerak penting dalam memperluas ekosistem kendaraan listrik di tanah air.

“Bagaimana dengan motor listrik baru? Ya saya rasa itu juga jadi pilihan bagi masyarakat mau mengonversi atau beli motor listrik baru. Toh ujungnya juga sama ya itu efisiensi energi seperti yang dicita-citakan,” ujarnya dalam pesan singkat, Kamis (26/3).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa elektrifikasi tidak hanya soal mengubah mesin lama menjadi motor listrik. Lebih dari itu, elektrifikasi juga soal memberi akses yang fleksibel agar setiap kelompok konsumen bisa masuk ke transisi energi dengan cara yang paling sesuai.

Motor Listrik Baru Masih Punya Pasar

Motor listrik baru tetap punya posisi penting di pasar karena menawarkan kemudahan bagi konsumen yang tak ingin repot mengubah kendaraan lama. Pembeli bisa langsung mendapatkan unit baru dengan desain terkini, garansi pabrikan, dan spesifikasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas modern.

Di banyak kasus, konsumen juga mempertimbangkan faktor kenyamanan, layanan purna jual, dan kemudahan mendapatkan bengkel resmi. Hal seperti ini membuat motor listrik baru tetap relevan meski pemerintah mendorong konversi sebagai salah satu agenda percepatan.

Konversi memang menarik bagi pemilik motor yang kendaraannya masih layak pakai. Namun, untuk sebagian orang, membeli motor listrik baru bisa lebih praktis karena tidak perlu melalui proses teknis yang melibatkan pembongkaran dan penggantian komponen utama.

Prabowo Dorong Konversi Massal dan Elektrifikasi Lebih Luas

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan rencana besar untuk mengubah sepeda motor konvensional menjadi motor listrik berbasis baterai. Ia juga mendorong elektrifikasi pada mobil, truk, dan traktor agar ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dapat berkurang.

“Whole plan is semua motor kita akan konversi ke motor listrik. Semua mobil, truk, traktor harus tenaga listrik,” kata Prabowo dalam tayangan YouTube yang dikutip Rabu (25/3).

Prabowo juga menyinggung bahwa penggunaan BBM ke depan akan semakin terbatas dan lebih banyak dinikmati kelompok tertentu. Dalam pernyataannya, ia menyebut kendaraan mewah masih bisa memakai bensin dengan harga pasar dunia.

Pernyataan itu memperlihatkan arah kebijakan yang cukup tegas dalam mendorong transformasi energi. Di sisi lain, implementasi di lapangan tetap membutuhkan instrumen yang lebih rinci agar target besar tidak berhenti di level wacana.

Apa yang Ditekankan Aismoli

Aismoli memandang keberhasilan program elektrifikasi tidak hanya ditentukan oleh arahan politik. Koordinasi lintas sektor dinilai jauh lebih penting agar program konversi dan penjualan motor listrik baru sama-sama bisa berkembang.

Berikut poin yang disorot Aismoli:

  1. Pemerintah perlu memberi ruang bagi konversi motor lama dan pembelian motor listrik baru.
  2. Adopsi kendaraan listrik akan lebih cepat jika masyarakat punya fleksibilitas pilihan.
  3. Program konversi memerlukan dukungan industri agar rantai pasok dan layanan teknis berjalan.
  4. Lembaga terkait harus ikut mengorkestrasi kebijakan agar implementasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Aismoli juga menilai satuan tugas percepatan transisi energi yang diketuai Menteri ESDM berpotensi menjadi penghubung antar pihak. Satgas itu diharapkan bisa menjaga ritme kebijakan agar program tidak hanya ramai dibicarakan, tetapi juga konsisten dijalankan.

Mengapa Dua Jalur Ini Sama-sama Penting

Konversi motor bensin punya keunggulan dari sisi pemanfaatan aset yang sudah ada. Banyak konsumen masih memiliki motor yang layak pakai, sehingga konversi bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal daripada membeli kendaraan baru.

Di sisi lain, motor listrik baru memberi keuntungan dalam hal kepraktisan dan pengalaman kepemilikan. Konsumen tidak perlu memikirkan proses modifikasi, sementara pabrikan biasanya memberikan spesifikasi yang sudah disiapkan untuk efisiensi penggunaan harian.

Perbedaan kebutuhan ini membuat pasar kendaraan listrik tidak bisa dipandang satu arah. Ada konsumen yang mengejar penghematan jangka panjang, ada yang mengejar kemudahan, dan ada pula yang menunggu insentif atau dukungan ekosistem yang lebih matang.

Tantangan Ekosistem Masih Besar

Agar konversi tumbuh, Indonesia masih membutuhkan dukungan teknis yang lebih kuat. Bengkel konversi, ketersediaan komponen, sertifikasi, dan layanan purna jual menjadi bagian penting yang menentukan kepercayaan masyarakat.

Motor listrik baru juga menghadapi tantangan serupa, terutama soal harga, infrastruktur pengisian daya, dan edukasi pengguna. Tanpa ekosistem yang memadai, kebijakan percepatan elektrifikasi bisa berjalan lebih lambat dari target.

Di level industri, keberhasilan transisi sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga teknis. Jika koordinasi berjalan baik, maka pasar motor listrik baru dan program konversi bisa saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Dampak ke Arah Pasar Kendaraan Listrik

Pernyataan Aismoli menjadi sinyal bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang bergerak menuju model yang lebih terbuka. Konsumen tidak dipaksa memilih satu jalur, melainkan diberi ruang untuk menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing.

Kondisi ini penting karena transisi energi butuh adopsi yang luas, bukan hanya target yang terlihat besar di atas kertas. Dengan motor listrik baru dan konversi motor lama yang sama-sama diberi tempat, percepatan elektrifikasi berpeluang berjalan lebih realistis dan inklusif bagi masyarakat luas.

Exit mobile version