Isra Mikraj merupakan momen penting dalam sejarah Islam yang memperingati perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan naik ke langit. Peristiwa ini selalu diperingati pada tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriyah, dan menjadi hari suci di berbagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim.
Beberapa negara bahkan menetapkan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional resmi. Penetapan ini bertujuan memberikan ruang waktu bagi masyarakat untuk memperingati dan mendalami nilai-nilai spiritual dari peristiwa tersebut. Berikut adalah empat negara yang secara resmi menjadikan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional.
1. Kuwait
Kuwait adalah negara pertama yang menetapkan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional. Pada tahun 2026, libur Isra Mikraj jatuh pada tanggal 18 Januari, meskipun peringatan dalam kalender Hijriyah bertepatan dengan 16 Januari. Pemerintah Kuwait menggeser libur ke hari Minggu karena hari Jumat dan Sabtu sudah merupakan akhir pekan resmi di negara tersebut. Kuwait mayoritas dihuni oleh Muslim Sunni dengan sebagian besar pengikut Syiah, sehingga penetapan libur ini memiliki makna religius yang kuat.
2. Oman
Oman juga mengakui Isra Mikraj sebagai hari libur nasional dengan penyesuaian yang mirip dengan Kuwait. Libur Isra Mikraj di Oman pada tahun 2026 jatuh pada tanggal 18 Januari. Negara ini memiliki mayoritas umat Islam dengan penganut aliran Ibadi, yang merupakan cabang Islam moderat dan unik. Penetapan hari libur ini mencerminkan pengakuan pemerintah Oman terhadap nilai penting Isra Mikraj dalam kehidupan beragama masyarakatnya.
3. Malaysia
Malaysia memberlakukan hari libur Isra Mikraj secara terbatas di beberapa negara bagian seperti Kedah, Negeri Sembilan, dan Perlis. Dalam kalender nasional Malaysia, Isra Mikraj juga dikenal sebagai Hari Israk dan Miraj. Acara peringatannya meliputi doa bersama dan ceramah tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Pemberlakuan libur ini menunjukkan kesamaan sosial budaya dan keagamaan antara Malaysia dan negara-negara muslim di Asia Tenggara.
4. Brunei Darussalam
Brunei Darussalam menerapkan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional jauh sebelum Indonesia. Pada tahun 2026, Isra Mikraj jatuh pada tanggal 17 Januari. Di negara ini, peringatan Isra Mikraj biasanya disertai zikir, ceramah, dan doa bersama. Brunei memiliki penduduk mayoritas Muslim lebih dari 70 persen dan menerapkan syariat Islam secara ketat dalam kehidupan sosial dan pemerintahannya. Oleh karena itu, hari libur Isra Mikraj menjadi bagian penting dari kalender nasional dan agama.
Penetapan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional di keempat negara tersebut memperlihatkan betapa pentingnya momentum tersebut dalam tradisi Islam. Walaupun tanggalnya sama menurut kalender Hijriyah, kebijakan pemerintah menetapkan tanggal libur bisa berbeda, biasanya disesuaikan dengan jadwal akhir pekan dan kalender nasional masing-masing negara.
Selain aspek keagamaan, pengakuan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional membantu mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam sistem pendidikan dan ketenagakerjaan. Dengan adanya libur resmi, masyarakat diberikan kesempatan untuk lebih memahami makna perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dan memperkuat keimanan mereka.
Keberadaan hari libur Isra Mikraj juga berkontribusi menjaga kelestarian tradisi dan budaya Islam. Kegiatan keagamaan seperti doa bersama dan ceramah yang rutin digelar pada hari tersebut menjadi media penyebaran ajaran dan pengetahuan Islam secara luas. Hal ini mendukung peningkatan kesadaran religius di kalangan umat, baik generasi muda maupun masyarakat umum.
Ke depan, potensi adopsi hari libur Isra Mikraj oleh negara-negara muslim lainnya masih terbuka lebar. Pengakuan tersebut tidak hanya sebagai penghormatan terhadap peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai pengukuhan identitas agama serta budaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim. Negara-negara yang telah menetapkan hari libur ini memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat solidaritas dan persatuan umat.
Dengan demikian, isu penetapan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional menjadi bagian dari upaya pemerintah dan masyarakat di berbagai negara muslim dalam menjaga nilai-nilai keagamaan yang penting. Hari libur ini juga menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperkuat ikatan keimanan yang menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.





